RSS

Pendudukan Jepang di Indonesia

07 Nov

Pada masa perang dunia ke-2, Jepang menjadi negara imperialisme yang kuat bersama negara-negara fasis lain, seperti Jerman dan Italia. Jepang ingin menjadi penguasa Asia seperti semboyan yang tertuang dalam prinsip mereka, yakni Hokko Icciu. Untuk memerangi sekutu, Jepang membutuhkan sumber daya alam yang cukup. Namun, Jepang kekurangan sumber daya tersebut. Oleh karena itu, Jepang mencari wilayah-wilayah di mana wilayah itu dapat memenuhi kebutuhan sumber dayanya. Salah satu wilayah yang diincar Jepang adalah Indonesia. Pada saat itu, Indonesia sedang dikuasai oleh Belanda. Kemudian, Jepang masuk ke wilayah Indonesia untuk mengambil alih kekuasaan yang dipimpin oleh Jendral Terauchi. Jepang menduduki Indonesia dengan mempunyai tujuan untuk memperoleh dukungan dalam perang asia timur raya.

Pada tanggal 8 Maret 1942, Jepang menduduki Indonesia untuk menggantikan Belanda. Penyerahan kekuasaan terjadi di Kalijati, tepatnya di Subang. Pada waktu itu, Belanda menyerah tanpa syarat dikarenakan sudah tidak mendapat dukungan dari rakyat Indonesia. Sementara itu, rakyat Indonesia menanti-nanti kedatangan Jepang sebagaimana sesuatu yang tertuang pada ramalan Jayabaya. Rakyat Indonesia juga sudah muak dengan penjajahan Belanda dan ingin membebaskan diri dari hal tersebut. Oleh karena itu, kedatangan Jepang disambut baik oleh rakyat Indonesia.

Pada waktu itu, Indonesia dibagi menjadi tiga wilayah, yakni Sumatra, Jawa, dan Madura. Sumatra ditempatkan pada Angkatan Darat ke-25. Sumatra merupakan daerah yang paling penting  karena wilayah ini merupakan pusat sumber-sumber strategis kebutuhan yang diinginkan oleh Jepang. Sementara itu, Jawa dan Madura berada di bawah Angkatan Darat ke-16. Jawa menjadi pusat sumber daya manusia yang dimanfaatkan oleh Jepang.

Strategi Jepang untuk melumpuhkan Indonesia adalah dengan menghapus organisasi pergerakan di Indonesia. Tujuan dihapuskannya organisasi-organisasi ini adalah untuk mengantisipasi perlawanan rakyat Indonesia terhadap Jepang dari segi politik. Gerakan-gerakan organisasi seperti itu juga dianggap meresahkan Jepang. Seluruh organisasi pergerakan di Indonesia dihapuskan oleh Jepang, kecuali organisasi-organisasi Islam. Organisasi Islam tidak dihapuskan oleh Jepang karena organisasi Islam bersifat antibarat.

Pada bulan April 1942, Jepang mendirikan organisasi pertamanya. Organisasi ini bernama Gerakan Tiga A. Organisasi Gerakan Tiga A didirikan oleh Jepang untuk menarik simpati rakyat Indonesia. Gerakan Tiga A memiliki slogan yang berisi pelindung Asia, pemimpin Asia, dan cahaya Asia. Gerakan ini diketuai oleh Mr. Syamsudin. Seiring dengan berjalannya Gerakan Tiga A, organisasi ini tidak banyak mendapat dukungan pejabat dari Indonesia. Gerakan Tiga A juga tidak mempunyai tokoh-tokoh yang terkenal dan mampu menarik simpati rakyat Indonesia sehingga gerakan ini menjadi gagal.

Setelah gagalnya Gerakan Tiga A, pemerintah Jepang membentuk organisasi baru pada bulan Maret 1943. Organisasi ini bernama Putera (Pusat Tenaga Rakyat). Organisasi ini memiliki tujuan yang sama dengan Gerakan Tiga A, yakni menarik simpati rakyat Indonesia dan membujuk rakyat Indonesia agar mau mendukung Jepang dengan segenap hati dalam peperangan. Organisasi ini beranggotakan tokoh-tokoh yang dikenal oleh rakyat Indonesia. Tokoh-tokoh yang dimaksud adalah Sukarno sebagai ketuanya, Moh. Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan Ki Hj. Mas Mansur. Mereka sering disebut sebagai empat serangkai. Pemerintah Jepang melakukan hal seperti ini agar dapat meraih simpati rakyat Indonesia dengan lebih besar. Cara seperti ini berhasil untuk menarik simpati rakyat Indonesia, namun tokoh-tokoh nasional Indonesia berhasil mencari keuntungan untuk memperkuat rasa nasionalisme terhadap tanah air. Organisasi ini juga mendapat sedikit dukungan karena Jepang tidak mau memberi kebebasan kepada kekuatan-kekuatan rakyat yang sangat berpotensi. Akibatnya, organisasi ini digantikan dengan organisasi lain.

Jepang tidak hanya membentuk organisasi politik, tetapi juga organisasi militer dan semimiliter. Organisasi ini banyak yang ditujukan kepada para pemuda di Indonesia. Seinendan (Barisan Pemuda) adalah nama organisasi ini. Seinendan didirikan pada 9 Maret 1943 dengan tujuan melatih dan mendidik pemuda Indonesia agar menjaga dan mempertahankan tanah airnya sendiri. Walaupun sebenarnya organisasi ini dibuat untuk kepentingan Jepang supaya dapat membantunya melawan sekutu, Seinendan tetap menjadi organisasi yang bermanfaat bagi rakyat Indonesia. Para tokoh pergerakan memanfaatkan ini dengan cara menggembleng para pemuda untuk mempertahankan tanah air. Ada lagi organisasi yang bernama Heiho (Pembantu Prajurit Jepang). Organisasi ini didirikan pada bulan April 1943. Heiho berisi anggota para pemuda Indonesia yang dilatih dan dikerahkan untuk membantu prajurit Jepang di medan perang. Heiho diikutsertakan bertempur di Birma dan Kep. Solomon. Ada juga brisan pembantu polisi. Anggotanya berusia 23-25 tahun. Organisasi ini bernama Keibodan apabila di Jawa, Bogodan di Sumatra, dan Borneo Konon Hokokudan. Kemudian, salah satu organisasi militer yang paling berarti adalah Peta (Pembela Tanah Air). Organisasi ini didirikan pada bulan Oktober 1943. Peta adalah pasukan gerilya yang  merupakan tentara sukarela bangsa Indonesia. Pemimpin dari Peta adalah Sudirman. Peta bertujuan untuk membantu Jepang melawan tentara sekutu. Korps perwira dari Peta meliputi para pejabat, guru, kyai, dan orang-orang Indonesia yang dulu menjadi serdadu kolonial Belanda. Korps perwira ini akan dilantik menjadi daidanco (komandan batalyon), cudanco (komandan kompi), syodanco (komandan peleton), dan budanco (komandan regu).

Pada bulan Oktober 1943, Jepang juga sempat mendirikan organisasi untuk mengendalikan Islam. Organisasi ini menggantikan MIAI. Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) adalah nama organisasi ini. Kepemimpinan Masyumi diserahkan kepada tokoh-tokoh NU dan Muhammadiyah. Ketua Masyumi dipegang oleh Hasjim Asjari yang merupakan pendiri NU.

Organisasi yang menggantikan Putera adalah Jawa Hokokai. Organisasi ini dibentuk pada bulan Januari 1944. Jawa Hokokai juga biasa disebut sebagai Himpunan Kebaktian Jawa. Organisasi ini diketuai oleh Gunseikan. Sukarno dan Hasjim Asjari menjadi penasihat utama, sedangkan Hatta dan Mansur menjadi pengelola. Jepang melakukan hal  yang berbeda dalam kepemimpinan Jawa Hokokai. Hal ini dilakukan karena Jepang ingin memanfaatkan tokoh-tokoh nasional tersebut sebagai alat propaganda Jepang, sedangkan para tokoh nasional, khususnya Sukarno juga memanfaatkan Jepang sebagai fasilitas penunjang pemersatu rasa kesatuan akan tanah air. Dalam Jawa Hokokai, terdapat berbagai jenis pekerjaan. Pekerjaan itu diantaranya adalah Izi Hokokai (Himpunan Kebaktian Dokter), Kyoiku Hokokai (Himpunan Kebaktian Pendidik), Fujinkai (Organisasi wanita) dan Keimin Bunko Syidosyo (Pusat budaya). Program Jawa Hokokai ditujukan untuk orang yang berusia lebih dari 14 tahun. Program yang terkenal dalam organisasi ini adalah rukun tetangga (Tonari Gumi). Rukun tetangga ini bertujuan untuk mengorganisasikan seluruh penduduk yang terdiri dari sepuluh sampai dua puluh keluarga untuk mobilisasi, indoktrinisasi, dan pelaporan.

Kebijaksanaan Jepang untuk rakyat Indonesia terbagi menjadi dua bagian, yakni menghapus pengaruh-pengaruh barat dan mendukung mereka untuk kemenangan Jepang. Dalam menghapus pengaruh-pengaruh barat, pemerintah Jepang melakukan suatu pelarangan bahasa Belanda dan Inggris. Bahasa-bahasa ini digantikan oleh bahasa Indonesia. Berbagai buku yang berisikan bahasa Belanda dan Inggris dilarang beredar oleh Jepang. Kemudian, Jepang juga melakukan pembelajaran budaya Jepang. Budaya-budaya seperti itu dilakukan dengan cara pengembangan bahasa Jepang, penerbitan kalender Jepang, dan sebagainya.

Sepanjang pendudukan Jepang di Indonesia, rakyat pribumi mengalami penderitaan yang sangat mendalam. Penderitaan ini ditandai dengan adanya suatu bentuk kekerasan seperti romusha dan jugun ianfu. Romusha merupakan pekerja paksa yang ada pada zaman Jepang. Kebanyakan yang menjadi romusha adalah petani. Jumlah pekerja yang menjadi romusha pada waktu itu antara 4 sampai 10 juta jiwa. Jugun ianfu adalah budak seks pada zaman Jepang. Mereka dijadikan sebagai penghibur bagi tentara Jepang. Awalnya, mereka ditawari untuk mendapatkan pekerjaan yang layak bagi pemerintahan Jepang. Akan tetapi, pemerintah Jepang membawanya ke rumah bordil yang berguna sebagai tempat penyaluran nafsu birahi mereka. Akibatnya, banyak jugun ianfu yang mengalami trauma psikis, penyakit kelamin, bahkan kematian akibat pekerjaannya.

Pada masa pendudukan Jepang, banyak juga pemberontakan yang dilakukan oleh rakyat Indonesia terhadap Jepang. Pemberontakan itu antara lain Pemberontakan Aceh, Singaparna, Indramayu, Teuku Hamid, Peta, Pang Suma, Biak, Pulau Yapen Selatan, dan Papua. Pemberontakan yang terkenal di antaranya adalah pemberontakan Aceh, Singaparna, dan Peta. Pemberontakan Aceh dipimpin oleh Teungku Abdul Jalil. Pemberontakan ini cukup menggetarkan Jepang sebanyak dua kali, namun berhasil digagalkan pada tahap yang ketiga. Teungku Abdul Jalil gugur ditembak saat sedang salat. Pemberontakan Singaparna dipimpin oleh K.H. Zainal Mustafa. Beliau mengajarkan penduduknya untuk belajar silat sebagai bentuk perlawanan terhadap Jepang. Akan tetapi, pemberontakan ini juga tetap kalah dan akhirnya K.H. Zainal Mustafa dihukum mati. Pemberontakan Peta terbagi menjadi tiga wilayah, yakni Aceh, Cilacap, dan Blitar. Pemberontakan di Aceh dipimpin oleh Gyugun T. Hamid. Lalu, pemberontakan di Cilacap dipimpin oleh Kusaeri. Pemberontakan di Blitar dipimpin oleh Supriyadi. Semua pemberontakan rakyat Indonesia terhadapa Jepang dipicu oleh tindakan kekerasan dan sifat angkuh yang dilakukan oleh Jepang. Ada juga yang disebabkan perlakuan Seikeirei yang dilakukan terhadap Jepang terhadap rakyat Indonesia. salah satu pemberontakan yang dipicu oleh hal itu adalah pemberontakan Singaparna. Selain pemberontakan, ada juga yang melakukan gerakan bawah tanah. Gerakan bawah tanah ini bertujuan untuk mencari informasi tentang kelemahan Jepang dalam mengahadapi pasukan militernya. Gerakan ini banyak yang berasal  dari kalangan pemuda. Gerakan ini dibagi menjadi empat bagian, yakni pedagang, pegawai, pelajar, dan gerakan kaigun. Bagian pedagang dipimpin oleh Sutan Sjahrir, sedangkan bagian pegawai dipimpin oleh Sukarni, Adam Malik, dan Pandu Wiguna. Kemudian, bagian pelajar dipimpin oleh Syarif Thayeb, Eri Sudewo dan Chairul Saleh. sedangkan bagian gerakan kaigun dipimpin oleh Achmad Subarjo, Sudiro, dan Wikana.

Pada tanggal 7 September 1944, Perdana Menteri Koiso mengeluarkan janji koiso yang menjanjikan kemerdekaan bagi Indonesia. Akan tetapi, kemerdekaan itu tidak diketahui kapan akan terjadi di Indonesia. Beliau tidak menyebutkan tanggal dan waktu yang jelas. Melalui janji ini, diharapkan rakyat Indonesia mau mendukung Jepang dalam perang sebagai tanda ucapan terima kasih. Bendera Indonesia juga boleh dikibarkan di kantor-kantor Jawa Hokokai.

Kemudian, pembentukan kelompok pemuda dan militer yang baru mulai didirikan. Jawa Hokokai mendirikan organisasi pemuda sendiri yang bernama Barisan Pelopor. Selanjutnya pada Desember 1944, Masyumi juga mendirikan Barisan Hizbullah. Organisasi ini diketuai oleh Agus Salim. Pada saat itu, Jepang juga sudah semakin terdesak dengan kondisi perangnya. Armada perang Jepang juga sudah semakin terkikis oleh sekutu.

Sampai akhirnya pada tanggal 29 April 1945, Jepang mendirikan Dokuritzu Zyunbi Tyoosakai (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Badan ini diketuai oleh Radjiman Widyodiningrat dengan beranggotakan 26 orang termasuk beliau. Pihak Jepang menginginkan kemerdekaan berada di tangan generasi tua. Jepang menginginkan hal itu karena generasi tua mempunyai sifat yang lunak terhadap pemerintah Jepang. Jepang juga tidak mau memberikan kemerdekaan kepada generasi muda karena generasi tersebut lebih agresif dan sulit diterka. Kemudian, BPUPKI mengadakan rapat sebanyak dua kali. Rapat yang pertama adalah pembuatan suatu dasar negara. Dasar negara diajukan oleh tiga tokoh, yakni Moh. Yamin, Supomo, dan Sukarno. Ketiga tokoh ini mendebatkan konsep-konsep mereka. Akhirnya pada tanggal 1 Juni 1945, Sukarno memenangkan konsep dasar negaranya yang dinamakan Pancasila. Namun, ada kejanggalan dari kaum muslim bahwa mereka tidak mendapatkan peran yang penting dalam pergerakan kemerdekaan. Karena ada kejanggalan tersebut, dibentuklah suatu badan yang bernama Panitia Sembilan. Panitia Sembilan ini diketuai oleh Sukarno dan berisi 9 orang. Hasil dari Panitia Sembilan adalah Piagam Jakarta. Semua isi dari Piagam Jakarta dijadikan sebagai isi dari Pancasila, tetapi sila kesatu diganti kalimatnya. Hal ini terjadi karena tidak semua rakyat Indonesia beragama Islam. Rapat yang kedua adalah pembuatan suatu Rancangan UUD. Hasil Rancangan UUD hampir seluruhnya diambil dari alinea keempat Piagam Jakarta.

Pada tanggal 6 Agustus 1945, Hiroshima dijatuhi bom atom oleh Amerika sehingga menewaskan sedikitnya 78000 orang. Kemudian satu hari setelahnya, Dokuritsu Junbi Iinkai (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dibentuk dan diumumkan di Jakarta. Organisasi ini diketuai oleh Sukarno dan diwakili oleh Hatta. Pada tanggal 9 Agustus 1945, Nagasaki dijatuhi bom atom oleh Amerika dan pihak Soviet menyerbu Manchuria. Hal ini semakin membuat Jepang menjadi terdesak. Karena Jepang sudah tidak lama lagi ingin menyerah, Sukarno, Hatta, dan Radjiman pergi ke Saigon untuk menemui Jenderal Terauchi Hisaichi yang akhirnya bertemu di Dalat pada tanggal 11 Agustus. Sesampainya di sana, Terauchi menjanjikan kemerdekaan bagi Hindia Timur Belanda, tetapi memveto penggabungan Malaya dan wilayah Inggris di Kalimantan. Sukarno dan kawan-kawannya kembali ke Indonesia pada tanggal 14 Agustus 1945.

Jepang semakin terdesak dengan keadaanya yang sangat kritis. Akhirnya, Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu pada tanggal 15 Agustus 1945. Pada saat itu, pihak sekutu tidak menguasai Indonesia, sedangkan pihak Jepang sudah menyerah. Akibat dari hal ini, terjadi kekosongan kekuasaan atau vacuum of power. Gunseikan mendapatkan perintah khusus untuk mempertahankan status quo sampai kedatangan pasukan sekutu. Namun, Sukarno dan kawan-kawannya takut akan konflik dengan Jepang. Karena ketakutan-ketakutan itu, timbullah jiwa pemberani dari para generasi muda sehingga membawa Sukarno dan Hatta ke Rengasdengklok pada tanggal 16 Agustus 1945. Mereka memilih tempat itu karena tempat itu adalah tempat yang paling aman. Generasi muda bertindak demikian untuk melindungi Sukarno dan Hatta dari pemberontakan Peta dan Heiho. Ternyata, pemberontakan tidak ada pada tempat itu sehingga Sukarno dan Hatta curiga akan pernyataan kemerdekaan di luar pihak Jepang. Mereka berdua tidak mau hal demikian. Akhirnya atas usul Maeda untuk mengembalikan Sukarno dan Hatta ke tempatnya, mereka mengembalikan tokoh pergerakan tersebut ke rumah Maeda di Jakarta. Sesampainya di Jakarta, mereka merancang kemerdekaan sepanjang malam. Sampai pada tanggal 17 Agustus 1945, Indonesia diproklamirkan kemerdekaannya oleh Sukarno dan Hatta. Peristiwa ini terjadi di lapangan IKADA secara sederhana. Naskah proklamasi diketik oleh Sayuti Melik. Pada saat itu, naskah proklamasi mengalami perubahan sebanyak tiga kali. Bendera Indonesia dijahit oleh Ibu Fatmawati. Kemerdekaan bangsa Indonesia merupakan awal dari perjalanan bangsa Indonesia bebas dari penjajahan. Peristiwa proklamasi kemerdekaan ini adalah peristiwa yang paling penting dalam sejarah Indonesia.

Sumber:

Ricklefs M. C., 2008, Sejarah Indonesia Modern 1200–2008, Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta

About these ads
 
Leave a comment

Posted by on November 7, 2011 in Masa Pendudukan Jepang

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: