RSS

Imperialisme dan Kolonialisme

24 Oct

Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam. Indonesia tentu mempunyai sumber daya alam yang melimpah. Namun, kita tentu tahu melalui hal seperti itu bangsa-bangsa asing akan mengincar sumber daya alam yang ada di negara ini. Hal ini dapat ditandai dengan adanya inperialisme dan kolonialisme.
Imperialisme merupakan sesuatu sistem yang sangat tidak terpuji. Sistem ini sangat bertentangan dengan nilai dan norma. Apabila dilihat dari definisinya, imperialisme adalah sistem pemerintahan baik di bidang ekonomi maupun politik yang bertjuan untuk menguasai dan mengeksploitasi wilayah yang didudukinya. Imperialisme sering dilakukan oleh bangsa-bangsa Eropa. Tujuan imperialisme sebenarnya adalah kekayaan (gold), kejayaan (glory), dan agama (gospel). Imperialisme juga dapat dikatakan sebagai sarana penyebar ide-ide dan kebudayaan. Oleh karena itu, imperialisme juga dapat dijadikan sebagai awal pembaharuan bagi negara-negara yang terjajah untuk dapat berkembang menjadi negara yang lebih baik.
Imperialisme bangsa-bangsa Eropa terjadi karena adanya beberapa faktor. Salah satunya adalah kebutuhan akan rempah-rempah. Kebutuhan akan tempah-rempah ini akan selalu meningkat dan harganya selalu mahal. Rempah-rempah itu seperti cengkih, buah pala, pala, dan lain-lain. Bangsa Eropa akan mendapatkan untung besar apabila menjual rempah-rempah ini dalam jumlah besar. Oleh karena itu, mereka mencari wilayah-wilayah yang dapat memproduksi rempah-rempah tersebut dan ingin mendudukinya. Salah satu faktor yang paling penting juga adalah rasa dendam terhadap umat Islam karena kekalahan mereka dalam perang salib. Hal ini merupakan faktor yang sangat kuat. Bangsa-bangsa Eropa ingin mendapatkan kekayaan besar dalam hal perdagangan rempah-rempah. Lalu, mereka ingin memanfaatkan kekayaan itu untuk menyatakan perang terhadap umat Islam demi melampiaskan amarahnya. Faktor yang tidak boleh dilupakan juga adalah ditutupnya jalur konstantinopel Turki terhadap bangsa-bangsa Eropa. Hal ini sangat berpengaruh karena wilayah Konstantinopel adalah wilayah yang sangat strategis untuk dijadikan lahan perdagangan.
Imperialisme banyak dilakukan di negara-negara Asia. Contoh yang paling sederhana adalah Indonesia. Indonesia menjadi negara yang terjajah pada waktu itu. Beberapa negara asing yang menjajah Indonesia adalah Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris, dan Jepang. Negara asing yang pertama kali melakukan imperialisme terhadap Indonesia adalah Portugis. Namun, negara asing yang paling lama melakukan imperialisme di Indonesia adalah Belanda.
Ekspansi bangsa Barat di Indonesia terjadi sejak abad 16—20. Portugis melakukan ekspansi yang pertama pada awal abad ke-16. Ekspansi yang terakhir dilakukan oleh negara Belanda dengan memakan waktu yang sangat lama.
Imperialisme terbagi menjadi dua, yaitu imperialisme kuno dan modern. Imperialism kuno dilakukan sebelum terjadinya revolusi industri. Negara-negara yang melakukan hal ini adalah Portugis, Spanyol, Turki, Belanda, dan lain-lain. Imperialisme modern terrjadi setelah terjadinya revolusi industry. Negara-negara Eropa pada masa itu mulai berlomba-lomba untuk mencari wilayah jajahan. Beberapa negara itu adalah Inggris, Prancis, dan lain-lain.
Penjajahan bangsa-bangsa Barat sangat berhubungan dengan kolonialisme. kolonialisme dapat disebut juga sebagai kekuasaan atas sistem pemerintahan yang dianut oleh bangsa-bangsa penjajah. Tujuan dari kolonialisme tidak jauh dari faktor ekonomi. Mereka ingin menambah hasil kekayaan mereka dengan malakukan hal-hal seperti itu. Perbedaan yang paling mendasar antara imperialism dan kolonialisme adalah pada nilainya. Imperialisme lebih menitikberatkan pada eksploitasi alam, sedangkan kolonialisme lebih menitikberatkan pada kekuasaan. Imperialism dan kolonialisme di Eropa mempunyai proses yang cukup panjang. Mula-mula, mereka melakukan perdagangan dengan pedegang-pedagang local. Setelah mereka melakukan perdagangan itu, mereka mencoba memasuki lingkungan pemerintahan daerah local tersebut agar mendapatkan tempat yang sesuai. Kemudian, mereka mencampuri urusan pemertintahan setempat seakan-akan mereka berjasa dalam wilayah-wilayah tersebut. Sampai saatnya ada kesempatan, mereka akan menjatuhkan pemerintahan tersebut dan mengambil alih untuk melakukan monopoli perdagangan.
Bangsa-bangsa Kolonial yang memasuki Indonesia pertama kali adalah bangsa Portugis. Peristiwa itu berlangsung sejak awal abad ke-16 tepatnya pada tahun 1511. Mereka menduduki di kepulauan Malaka yang menjadi transit perdagangan. Kegiatan pelayaran ini dipimpin oleh Alfonso D’Alburquerque. Sebelumnya memang sudah ada pemimpin-pemimpin pelayaran yang memimpin kegiatan pelayaran bangsa Portugis. Pemimpin-pemimpin itu seperti Bartolomeus Diaz yang mengitari Tanjung Harapan dan Vasco Da Gama yang sampai ke India. Alfonso D’Alburquerque menyangka Malaka adalah pusat perdagangan rempah-rempah yang sangat bermanfaat bagi kerajaan Portugis, tetapi ternyata hanyalah tempat transit perdagangan. Beliau juga menerapkan sistem monopoli sehingga membuat pedagang-pedagang lain memindahkan perdagangannya ke Aceh. Kemudian, beliau mencari tempat produsen rempah-rempah dan menemukannya di kepulauan Maluku.
Kepulauan Maluku merupakan kepulauan yang kaya akan rempah-rempah. Kepulauan ini memproduksi berbagai macam rempah-rempah seperi cengkih, buah pala, pala, dan lain-lain. Pada saat itu, terdapat dua kerajaan yang bersaing, yakni Ternate dan Tidore. Portugis melakukan kerja sama terhadap Ternate untuk mengalahkan Tidore. Pada saat itu juga, Spanyol datang dan mendukung Tidore untuk mengalahkan Ternate. Melalui hal seperti itu, mereka berperang untuk mengalahkan satu sama lain. Perang dimenangkan oleh pihak Portugis dan Ternate. Kemudian, Spanyol diusir dari Maluku melalui perjanjian Zaragoza. Setelah Portugis menang, Portugis mulai menerapkan sistem perdagangan monopolinya. Karena Portugis menerapkan sistem monopoli yang merugikan kerajaan Ternate, rakyat mulai merasa tidak senang akan kehadiran Portugis. Ditambah lagi dengan adanya kristenisasi dan sikap bangsa Portugis yang sewenang-wenang, Rakyat makin merasakan ketidaksukaannya terhadap Portugis. Akhirnya, melalui Sultan Baabullah pada tahun 1574, Portugis berhasil dikalahkan dan diusir dari Maluku.
Setelah bangsa Portugis dan Spanyol, muncullah kerajaan yang mampu menjajah Indonesia hingga ratusan tahun, yaitu kerajaan Belanda. Belanda mendarat pertama kali di Banten pada tahun 1596 yang dipimpin oleh Cornellis De Houtman. Belanda memiliki organisasi yang sangat terkenal yang bernama Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC). VOC mencapai masa kejayaannya pada masa Jan Pieterszoon Coen. Coen adalah pemimpin yang menggunakan cara kekerasan. Oleh karena itu, banyak peperangan terjadi pada masa Coen. VOC juga mempunyai undang-undang sendiri dan undang-undang itu tidak dapat diganggu gugat oleh rakyat pribumi. Beberapa contoh undang-undang itu ialah undang-undang seperti leverantie, hongitotchen, dll. VOC mengalami keruntuhan karena korupsi yang sangat parah dan dibubarkan pada tanggal 31 Desember 1799.
Setelah keruntuhan VOC, pemerintahan Belanda diambil alih oleh Herman Willem Daendels yang berkuasa dari 1808—1811. Daendels adalah utusan dari Prancis yang ditugaskan untuk mempertahankan pulau Jawa dari serangan Inggris. Pada saat itu, pertahanan di Jawa masih sangat lemah. Oleh karena itu, beliau melakukan pembangunan yang berguna untuk meningkatkan pertahanan di Jawa menjadi lebih kuat. Beliau membangun benteng-benteng yang berguna untuk memperkokoh sistem militer. Beliau juga memperbanyak tentara di Jawa. Proyek terbesar dari daendels adalah pembangunan jalan raya Anyer—Panarukan. Kerja rodi menjadi sistem pembangunan pada masa itu. Akibatnya, banyak rakyat yang mati. Sampai akhirnya, Jawa berhasil direbut oleh Inggris karena Daendels ditarik ke Eropa dan digantikan oleh gubernur Jannsens yang kurang memiliki kemampuan dalam menyusun perang.
Sir Thomas Stanford Raffles menduduki Jawa dan menggantikan gubernur Jannsens. Raffles menguasai Jawa dari1811—1816. Beliau adalah seseorang yang mencintai sejarah dan budaya. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya buku ciptaannya yang berjudul History of Java. Beliau juga yang menemukan bunga Rafflesia Arnoldi. Beliau adalah orang yang membuat Kebun Raya Bogor. Pada masa Raffles, kerja rodi tidak menjadi bagian yang diutamakan dalam pemerintahaannya. Hal ini menjadi demikian karena Raffles adalah orang liberal yang mencintai kebebasan. Raffles lebih menerapkan sistem land rent atau yang disebut sistem sewa tanah kepada rakyat pribumi. Pada akhirnya, Raffles berpindah tugas ke Singapura untuk membangun wilayah itu.
Setelah pengalihan kekuasaan terjadi, muncullah kekuasaan baru yang bernama Commissaris Generaal. Pemegang kekuasaannya adalah C.Th. Elout, G.A.G. Ph. Baron van der Capellen, dan A.A. Buyskes. Masa pemerintahan ini berlaku dari 1816—1830. Mereka diberi tugas oleh pemerintah untuk membangun sistem pemerintahan yang baik. Tujuan dari hal ini adalah agar pemerintah Hindia Belanda mendapatkan keuntungan dan dapat melunaskan hutang-hutang VOC. Pada masa ini, banyak terjadi peperangan yang sungguh dahyat. Perang ini diantaranya Perang Diponegoro di Jawa, Perang Padri di Sumatra Barat, dan Perang Pattimura di Maluku. Dampak dari perang seperti ini Belanda mengalami kerugian besar. Akibat dari itu, sistem Commissaris General dibubarkan oleh pemerintah.
Setelah masa Commissaris General selesai, timbullah masa pemerintahan Johaness Van Den Bosch. Masa Van Den Bosch berlaku dari 1830—1870. Van Den Bosch termasuk seseorang yang kejam. Beliau mempunyai konsep sistem pemerintahan yang paling terkenal. Sistem itu dinamakan Cultuur Stelsel. Cultuur Stelsel adalah sistem tanam paksa. Van Den Bosch mengeluarkan kebijakan seperti ini karena situasi negara sedang mengalami kekacauan di mana negara sedang mengalami kerugian besar karena berbagai macam perang. Akibat dari sistem ini, Belanda dapat melunasi hutangnya dan mendapatkan keuntungan besar. Tetapi, dampak yang lain juga adalah keluarnya politik etis dan kematian rakyat yang mewabah. Akhirnya, sistem tanam paksa dihapuskan dan diganti dengan sistem liberal.
Imperialisme dan kolonialisme terus berlanjut hingga datangnya bangsa Jepang. Kedatangan bangsa Jepang disambut baik oleh bangsa Indonesia karena kedatangannya diharapkan dapat membuat bangsa Indonesia menjadi merdeka. Kedatangan Jepang ke Indonesia adalah mengeksploitasi sumber daya alam dan manusia untuk keperluan Jepang. Mereka menyingkirkan Belanda dengan perjanjian Kalijati pada tanggal 8 Maret 1942. Mereka juga pernah memberikan janji kepada rakyat Indonesia yang bernama jani kaiso. Janji ini berisi bahwa Indonesia akan mendapatkan kemerdekaan di kemudian hari. Supaya dapat menjadi antibarat, Supaya dapat menghilangkan budaya Belanda, bangsa Jepang membubarkan semua organisasi yang ada pada waktu itu kecuali organisasi Islam. Organisasi Islam tidak dibubarkan karena Islam antibarat. Kemudian, bangsa Jepang juga melarang penggunaan bahasa Belanda dan menyuruh untuk menggunakan bahasa Indonesia. Jepang juga menganjurkan rakyat Indonesia untuk mengembangkan budaya Jepang.
Bangsa Jepang mendirikan organisasi gerakan tiga A yang diketuai oleh Mr. Syamsudin. Organisasi bertujuan untuk menarik simpati rakyat Indonesia. Namun, organisasi ini kurang berkembang karena tokohnya yang tidak terkenal. Akhhirnya, Gerakan Tiga A dibubarkan dan diganti dengan PUTERA.
PUTERA dibentuk oleh empat serangkai, yaitu Bung Karno, Bung Hatta, Ki Hajar Dewantara, Kiyai Haji Mas Mansyur. Organisasi ini bertujuan sama seperti Gerakan Tiga A, yakni menarik simpati rakyat Indonesia. Organisasi ini memang mendapatkan simpati dari rakyat, tetapi organisasi ini akhirnya dimanfaatkan oleh para pembentuk-pembentuk PUTERA untuk melancarkan rasa nasionalisme. Setelah gerakan itu diketahui, PUTERA dibubarkan.
Jawa Hokokai juga dibentuk oleh Jepang. Jawa Hokokai merupakan organisasi ketiga setelah PUTERA. Jepang juga membuat organisasi-organisasi militer seperti PETA, Heiho, Sendenbu, dan lain-lain. Tujuan organisasi militer ini bertujuan untuk membantu Jepang dalam menuntaskan Perang Asia Timur Raya. Jepang juga membuat Jugun Ianfu sebagai penghibur tentara-tentara Jepang.
Perlawanan juga banyak terjadi di beberapa daerah seperti di Singaparna, Blitar, Sukamanah, Aceh, dan sebagainya. Perlawanan ini dilandasi oleh berbagai faktor. Faktor yang paling mendalam adalah perlakuan akan Seikeirei (menyembah dewa matahari). Ada juga penyiksaan bangsa Jepang yang begitu kejam sehingga memancing emosi rakyat Indonesia.
Dampak-dampak dari ekspansi bangsa Jepang barbagai macam. Apabila dilihat dari sisi budaya, budaya Indonesia menjadi lebih berkembang seperti sistem RT, Taisho, dll. Jika dilihat dari segi militer, rakyat Indonesia sudah mengetahui bagaimana caranya berperang terhadap penjajah dengan menggunakan senjata yang modern. Sisi politik menekankan adanya kemerdekaan dan birokrasi yang menempel di dalam rakyat Indonesia. sisi pendidikan juga berkembang dengan pesat.

Sumber:
Ricklefs M.C. , 2008, Sejarah Indonesia Modern 1200–2008, Jakarta:PT Serambi Ilmu Semesta.

 
Leave a comment

Posted by on October 24, 2011 in Masa Kolonialisme

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: