RSS

Keberadaan Bajak Laut di Sekitar Kepulauan Sulu tahun 1800—1848

19 Jan

Kepulauan Sulu

Kepulauan Sulu merupakan kepulauan yang berada di sebelah Kalimantan Utara. kepulauan ini terdiri dari empat pulau. Empat pulau itu berupa pulau Sibutu, Tawi-Tawi, Jolo & Tapil, dan Basilan[1]. Dalam keempat pulau tersebut, pulau Jolo & Tapil adalah pulau yang memiliki pusat pemerintahan dari seluruh kegiatan Sulu. Pusat pemerintahan itu berupa tempat sebuah kerajaan bernaung. Pulau Sibutu menghubungkan laut Sulawesi, Sulu, dan Teluk Darvel. Pulau Basilan adalah pulau yang terbesar dalam kepulauan Sulu. Pulau ini terdiri dari 3 bagian pulau, yakni kelompok Samal, Tapiantana, dan basilan.

Menurut Hall, Laut Sulu masuk ke dalam sebuah zona komersial yang berada di Asia Tenggara. Dalam hal ini, Laut Sulu masuk ke zona keempat yang mencakup daerah pantai barat Luzon, Mindoro, Cebu, Mindanao, dan pantai utara Kalimantan[2].

Bajak laut yang berada di kepulauan Sulu terdiri dari 3 kelompok. Tiga kelompok inilah yang menguasai berbagai daerah di kepulauan Sulu. Tiga kelompok itu adalah kelompok Lanun, Balangingi, dan Mindanao.

Lanun

Lanun merupakan nama lain dari bajak laut. Nama Lanun berasal dari bahasa Mangindanao. Nama itu berupa l-lanao-en yang mempunyai arti orang dari danau[3]. Bajak laut Lanun awalnya berda di pedalaman, namun akhirnya mereka menyebar ke daerah pantai. Ada dua faktor yang menyebabkan mereka ke daerah pantai. Salah satu faktor itu adalah letusan gunung api tahun 1765. letusan gunung api membuat penduduk daerah sekitar berpindah tempat menuju ke tempat yang lebih aman. Kemudian, faktor yang kedua adalah stratifikasi sosial khas bangsa Maranao yang berada di Sulu.

Bajak Laut Lanun merupakan bajak laut yang kuat. Bajak laut ini memiliki masa yang cukup besar. Laporan hunt menyatakan bahwa kota Sug (Jolo) memiliki 600 bajak laut, tepatnya di kampung Subyon. Hal ini membuat kota Sug menjadi sebuah kota yang kaya akan bajak laut karena dijadikan sebagai tempat berdiam bajak laut.

Mangindanao

Nama Mangindanao adalah nama suku yang berada di daerah Mangindanao Selatan, di mana mereka mendiami lembah dan dataran yang diairi oleh Sungai Pulangi[4]. Ekspedisi bajak laut yang dilakukan oleh bajak laut Mangindanao terlibat dalam hubungan perang Moro dengan kekuatan Spanyol. Dalam hal kediamannya pada masyarakat mangindanao, masyarakat Mangindanao terbagi dalam dua kelompok, yakni kawasan muara sungai dan hulu sungai. Konsep pembajakan laut Mangindanao adalah konsep mangayo yang berisikan rampasan barang dan tentunya masyarakat yang paling dipentingkan.

Balangingi

Nama Balangingi merupakan nama pulau dari gugusan pulau Samales yang berasal dari kepulauan sulu. Kepulauan balangingi terbagi menjadi empat kubu, yakni Balangingi, Sipak, Bungotingal, dan Sangap. Dalam hal keberadaan tentang bajak laut ini, kelompok bajak laut Balangingi menggantikan orang Lanun seiring berkurangnya jumlah unsur perompak Lanun yang semakin lama semakin menurun[5]. Dalam sisi geografis, pulau Balangingi mempunyai bentuk yang panjang dan tidak memiliki bukit yang tinggi sehingga membuat Balangingi menjadi tempat pertahanan yang kuat. Dalam hal perbudakan, Balangingi membawa budak antara 2 & 3 ribu tawanan ke Sulu setiap tahunnya yang diambil dari Filipina pusat[6].

Persenjataan, Perahu, dan Korban

Bajak laut Sulu menjadi salah satu bajak laut yang terkuat pada saaat itu. Mereka memiliki jenis persenjataan yang bermacam-macam. Jenis persejataan itu ada yang berbentuk secara tradisional dan modern. Secara tradisional, senjata bajak laut memiliki bermacam-macam senjata yang berukuran panjang dan pendek. Untuk ukuran yang panjang, ada pedang, klewang, dan tombak. Senjata ukuran pendek juga berupa parang, golok, dan mandau. Ada juga senjata yang dibuat oleh orang-orang pribumi sendiri, yaitu lela dan rentaka atau lantaka (meriam yang bisa berputar-putar). Bahkan, rombongan bajak laut juga memiliki senjata pribadi berupa keris sebagai pegangan mereka.

Perahu yang sering dipakai oleh bajak laut yang berada di sekitar kepulauan Sulu adalah perahu kora-kora. Kora-kora memiliki ciri bentang satu layar berbentuk persegi panjang, berbadan lebar dan pendek, berlambung rendah, dan ujung-ujungnya tinggi serta dihias[7].

Perahu kora-kora terbuat dari papan dengan haluan dan buritan yang menjulang ke atas beberapa meter. Hiasan di perahu tersebut juga berbentuk sacral seperti naga dan sebagainya. Layar persegi panjang perahu kora-kora dibuat dari daun pandan yang dianyam.dan pada layer tersebut ditegakkan dengan tiga buah tiang yang menyatu di puncaknya. Perahu kora-kora digunakan oleh VOC untuk ekspedisi Hongitochten dan mengontrol cengkeh di Maluku.

Berita tentang korban bajak laut mengungkapkan bahwa keadaan korban yang menjadi budak bajak laut diperlakukan tidak sekejam yang diperkirakan. Biasanya, korban yang dijadikan sebagai budak adalah orang-orang Bajau. Orang-orang Bajau mempunyai kasta yang terendah dalam kelas sosial. Mereka ditangkap untuk dipekerjakan sebagai budak dalam mencari kebutuhan ekonomi para bajak laut. Walaupun mereka suka dijadikan sebagai budak, jaringan pelayaran orang-orang Bajau mampu mencakup sebagian besar kepulauan Indonesia. hal ini dapat dilihat dari komunikasi mereka terhadap masyarakat yang terbesar ke seluruh penjuru nusantara, bahkan hingga tanah semenanjung, pantai sabah, dan Filipina Selatan[8].

Perlu diketahui juga bahwa perlakuan budak di dunia barat dan dunia timur sungguh berbeda. Perlakuan budak di dunia timur lebih bersifat manusiawi daripada dibandingkan dengan dunia barat. Rakyat yang telah dijadikan budak biasanya hanya dipekerjakan sebagai pembuat garam, pencari ikan, pembantu rumah tangga, pandai besi, dan lain-lain. Dengan demikian, kehidupan budak dalam arti fisik menjadi lebih nyaman dan aman.

Budak dilaporkan bahwa dalam setiap kediamaannya mempunyai pekerjaan yang bermacam-macam. Biasanya, budak bekerja sebagai petani, tukang kebun, pemancing, pekerja konstruksi, penambang, pekerja kota, dan pekerja dari segala jenis, seperti tekstil, penghibur, gundik, pelayan domestic, pengecer, pedagang, ahli menulis, ahli bedah, dan sbahkan sampai pendeta[9]. Dikabarkan juga pula bahwa Sulu dan Mangindanao adalah pusat pemeriksaan dan pendistribusian kembali budak-budak yang ada di daerah sekitarnya.

Hubungan eksternal dengan berbagai pihak

Bajak laut Sulu memiliki hubungan dengan berbagai pihak yang bersifat baik dan buruk. Hubungan yang bersifat baik itu berupa hubungan dengan kerajaan daerah. Pada abad ke-18, Kerajaan Sulu sering menggunakan tenaga bajak laut untuk kekuatan militer. Terdapat hubungan yang bersifat politik dalam hal ini. Hubungan itu terlihat dalam tunduknya pangeran-pangeran bajak laut kepada Sultan kerajaan dan ada juga perkawinan antara pangeran bajak laut dengan putri dari kerajaan guna mempertahankan hubungan baik tersebut.

Namun, bajak laut Sulu ternyata memiliki hubungan yang bersifat buruk dengan para pemerintah colonial. Pemerintah Spanyol suka menyerang bajak laut Sulu dalam keberadaannya memperebutkan suatu wilayah koloni. Tidak hanya itu, Belanda juga menyerang bajak laut Sulu pada tahun 1848 dengan alasan tindakan bajak laut atas wilayah kekuasaan pereairan pemerintah colonial. Kedua pemerintah tersebut menganggap bahwa tindakan bajak laut Sulu suka mengganggu wilayah kekuasaannya dengan pembajaannya mengambil warga-warga sekitar daerah colonial. Alasan inilah yang dimiliki oleh para pemerintah colonial yang ingin menaklukkan bajak laut Sulu itu. Akan tetapi, belum tentu alasan-alasan ini benar. Dibalik semua itu, para pemerintah colonial ingin menguasai tanah dan mempunyai motif ekonomi untuk berbagai kepentingan yang ada.


[1] A. B. Lapian, Orang Laut, Bajak Laut, Raja Laut, Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad XIX. Jakarta: Komunitas Bambu. 2009. h. 41

[2] Singgih Tri Sulistiyono. Pengantar Sejarah Maritim Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. 2004. h. 29

[3] A. B. Lapian, op. cit. h. 137

[4] A. B. Lapian, op. cit. h. 139

[5] A. B. Lapian, op. cit. h. 143

[6] Anthony Reid, Slavery, Bondage, & Dependency in Southeast Asia. Queensland: University of Queensland. 1983. h. 32

[7] K. Z. Leirissa, dkk. Sejarah Kebudayaan Maluku. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. 1999. h. 45

[8] Diungkapkan dalam pidato A. B. Lapian. dalam pidato pengukuhan guru besar Fakultas Sastra Universitas Indonesia. A. B. Lapian, “Sejarah Nusantara Sejarah Bahari”. 1992. h. 9

[9] Anthony Reid, op. cit. h. 22

DAFTAR PUSTAKA

Buku

Lapian, A. B. 2009. Orang Laut, Bajak Laut, Raja Laut, Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad XIX. Jakarta: Komunitas Bambu.

Leirissa, K. Z. dkk. 1999. Sejarah Kebudayaan Maluku. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Reid, Anthony. 1983. Slavery, Bondage, & Dependency in Southeast Asia. Queensland: University of Queensland Press.

Sulistiyono, Singgih Tri. 2004. Pengantar Sejarah Maritim Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Artikel

Lapian, A. B. 1992. “Sejarah Nusantara Sejarah Bahari”.

Pradjoko, Didik. “Pelayaran dan Perdagangan di Nusantara pada Abad ke-16-Abad ke-19, Studi Kasus Pelayaran dan Perdagangan Tripang Orang Bugis dan Makassar”.

 
Leave a comment

Posted by on January 19, 2012 in Maritim

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: