RSS

Penerapan Program Pendidikan Pancasila 12 Tahun dalam Upaya Mendidik Moral Bangsa Indonesia

26 Mar


Pendidikan di Indonesia pada masa kini mengalami suatu involusi. Involusi ini berbentuk kemandegan dalam suatu proses yang pada akhirnya tertuju pada kemerosotan. Seperti yang kita ketahui tentang pendidikan di Indonesia, banyak sekali terjadi transformasi pendidikan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Hal itu terlihat dari perubahan kurikulum tentang pendidikan itu sendiri hingga perbaikan sarana dan prasarana pendidikan di Indonesia. Namun, apa daya ternyata walaupun telah terjadi perubahan yang besar-besaran, bahkan sangat kompleks, kondisi masyarakat Indonesia dalam mengemban pendidikan tetap tidak memiliki kemajuan. Jadi, kondisi ini jatuh pada mandegnya kualitas pendidikan yang dikembangkan oleh pemerintah, bahkan justru mengalami kemerosotan. Kemerosotan itu terletak pada jatuhnya moral bangsa Indonesia. Kini, kita dapat mengetahui, melihat, dan merasakan bahwa kemerosotan itu ada di depan mata.
Masyarakat yang terdidik dengan sistem pendidikan yang ada masih terkungkung oleh sikap-sikap yang lemah. Pendidikan yang seharusnya menjadi tonggak kemajuan peradaban bangsa tidak mampu merealisasikan hal tersebut, bahkan jauh dari realisasi. Hal-hal yang dapat dilihat dari kemerosotan pendidikan tersebut dari mental para pelajar dengan moralnya yang tidak memiliki etika, kualitas pengajaran guru yang kurang berkualitas dan monoton, hingga lemahnya birokrasi dari pemerintahan. Kini, para pelajar tidak memiliki budaya malu, etika kesopanan, bahkan hingga terkungkung dalam lingkaran kesesatan. Bukan hanya moralpelajar saja yang merosot, para guru pun kini tidak lagi memiliki integritas dan etos kerja. Para guru kini sangat malas dalam mendidik pelajar, bahkan hanya ingin mendapatkan pendapatan dengan hanya sekedar mengajar pelajaran, tidak lagi mendidik.
Seiring perkembangan globalisasi yang semakin dinamis, masyarakat juga semakin mudah untuk mendapatkan informasi tentang segala sesuatu yang menarik. Westernisasi yang diterapkan oleh dunia barat masuk melalui globalisasi dan akhirnya menggerogoti moral masyarakat. Zaman kini, masyarakat sudah tidak malu lagi dalam mengkonsumsi narkoba, melakukan free sex, bahkan sampai korupsi secara terang-terangan. Indonesia menjadi lahan eksploitasi yang bersifat negative seiring perkembangan globalisasi. Kini, banyak sekali ideologi-ideologi barat yang masuk ke Indonesia yang menyebabkan Indoneisa menjadi kehilangan identitas. Krisis identitas ini juga tidak hanya berasal dari pengaruh globalisasi, bahkan dari program pendidikan dari pemerintah itu sendiri. Penghilangan unsure Pancasila dalam kurikulum pendidikan di Indonesia menyebabkan para pelajar tidak mengerti apa hakikat dari Pancasila itu sendiri sehingga Pancasila sekarang hanya menjadi symbol yang dipajang di dinding kelas-kelas sekolahan. Sangat miris bila kita melihat Pancasila sebagai sebuah landasan dasar negara hanya menjadi retorika belaka.
Pancasila merupakan sesuatu yang tidak lazim bagi bangsa Indonesia. Pancasila menjadi pedoman dalam kegiatan hidup bangsa Indonesia. Sejarah mengatakan bahwa Pancasila dibuat sebagai pegangan ideologi bangsa Indonesia. Masa-masa awal kemerdekaan menempatkan Pancasila pada konteks yang sangat penting, seperti hidup matinya negara Indonesia. Pancasila diharapkan mampu meresap ke dalam hati sanubari bangsa Indonesia.

Pancasila dapat dikatakan menjadi sebagai asas hidup bangsa Indonesia.[1] Asas hidup itu manjadi hal yang penting sebagai identitas bangsa Indonesia. Identitas ini berguna untuk dijadikan sebagai kepribadian bangsa Indonesia supaya bangsa Indonesia memiliki ciri khas. Tentunya, identitas ini ditujukan untuk menarik simpati bangsa Indonesia sebagi penguatan rasa nasionalisme. Pancasila juga mempunyai dua dasar, yakni dasar negara dan dasar pandangan hidup.[2] Dasar negara berarti sebagai penyelenggaraan pemerintah sehari-hari. Dasar pandangan hidupberarti sebagi pangkalan pendidikan, yakni pendidikan rakyat dan pendidikan sekolah. Tidak hany itu, Pancasila juga memiliki tiga fungsi dalam upaya pembangunan nasional, yaitu Tujuan dan sasaran pembangunan, sarana dan syarat-syarat pembangunan, serta metodologi pembangunan.[3] Tujuan dan sasaran pembangunan berfungsi untuk mengarahkan bangsa Indonesia menuju masyarakat yang adil dan makmur.[4] Sarana dan syarat-syarat pembangunan memiliki beberapa fungsi, yakni penegerahan kekuatan sosial politik rakyat, pengerahan seluruh dana dan biaya dalam negeri, peningkatan solidaritas negara luar dalam politik luar negeri, dan peningkatan mentalitas dan semangat pembangunan di kalangan rakyat.[5] Metodologi pembangunan berimplementasi terhadap gotong royong.[6] Inilah yang menjadi berbagai aplikasi dari Pancasila.

Dalam menerapkan Program Pendidikan Pancasila 12 tahun, tentunya kita harus merevisi landasan yang ada dalam konstitusi hukum dari Departemen Pendidikan. Konstitusi itu akan direvisi dengan cara menambahkan program ini selama 12 tahun. Seperti yang kita ketahui pada masa kini, kurikulum pendidikan tidak menggunakan lagi pendidikan Pancasila yang dulu diterapkan pada masa orde baru. pada saat itu, pendidikan Pancasila diterapkan dengan sistem P4. Namun, program pendidikan P4 ini dihilangkan pada masa reformasi. Sebenarnya, sebelum P4 ada lagi yang dinamakan sebagai kurikulum 1968. Kurikulum ini juga bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila,bahkn menjadikan manusia menjadi manusia Pancasila sejati. Akan tetapi, kurikulum ini juga diganti dengan kurikulum lain karena kurikulum ini bersifat politis. Jadi, untuk menerapkan Program Pendidikan Pancasila 12 Tahun, birokrasi harus diubah supaya program ini dapat diimplementasikan.
Dalam penerapannya, program ini akan dibagi menjadi tiga tahap. Tahap itu terdiri dari tahap 1—6, 7—9, 10—12. Tahap 1—6 tahun ditujukan untuk pelajar SD. Tahap ini masih bersifat normatif. Artinya, tahap ini masih menjelaskan dasar dan fungsi nilai-nilai Pancasila secara sederhana. Kemudian, tahap 7—9 tahun merupakan tahap lanjutan dari sekolah dasar. Tahap ini ditujukan untuk anak SMP. Dalam hal ini tahap 7—9 tahun bersifat medium, yakni setingkat lebih tinggi dari tahap normatif. Tahap ini menjelaskan lebih rinci tentang dasar dan fungsi nilai-nilai Pancasila. Terakhir, tahap 10—12 tahun ditujukan untuk pelajar SMA. Tahap ini dinamakan sebagai tahap kritis karena tidak lagi menjelaskan tentang dasar dan fungsi nilai, melainkan tentang filsafat dan implementasi dari Pancasila tersebut. Di sini, pelajar SMA dituntut supaya mampu mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila ke dalam bentuk kehidupan bangsa Indonesia yang nyata. Kehidupan bangsa Indonesia itu dapat ditinjau dari segi politik, ekonomi, sosial, dan budaya dan berkaitan dengan Pancasila. Dengan melalui penerapan ini, ideologi Pancasila dapat diingat kembali sebagai dasar falsafah hidup bangsa Indonesia guna mencapai kemakmuran rakyat.
Dalam upaya penerapan program tersebut, tentu saja ada tantangannya. Jika kita ingin melakukan perubahan, pasti ada yang menantang perubahan tersebut. Oleh karena itu, tantangan-tantangan itu harus cepat diantisipasi supaya tidak canggung dalam menghadapinya. Salah satu tantangan itu adalah berasal dari masyarakatnya sendiri. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat telah menganaktirikan akan adanya Pancasila tersebut, bahkan lupa mengingat sila-silanya. Masyarakat, terutama pelajar, pasti tidak akan langsung menerima akan pendidikan ini. Untuk mengantisipasi hal tersebut, dibutuhkan kemampuan pengajaran dan pendidikan para guru agar para pelajar mampu menerima pendidikan tersebut. Pembenahan para guru juga menjadi hal yang penting untuk membenahi kualitas pendidikan. Akan tetapi, hal ini juga membutuhkan proses yang tidak cepat sehingga memakan waktu ayng cukup lama, mungkin sekitar 7—8 tahun. Kemudian, tantangan yang dihadapi kembali adalah pemerintah. Dengan adanya program ini, pemerintah akan merevisi kembali kurikulum yang ada untuk disempurnakan. Yang menjadi masalah adalah apakah pemerintah mau melakukan hal-hal seperti ini.mungkin, hal ini akan diperdebatkan kembali oleh para birokrat kita.
Di sini, kita dapat melihat bahwa Pancasila adalah sesuatu yang sangat vital dalam kehidupan bangsa Indonesia. Pancasila merupakan dasar ideologi negara yang dalam sejarahnya membutuhkan perjuangan yang besar. Kita dapat melihat bahwa perjuangan tokoh-tokoh pergerakan kita, Soekarno, Hatta, Syahrir, Moh. Yamin, dan lain-lain, sangat sulit dalam merumuskan Pancasila. Kita harus menghargai jerih payah mereka karena telah mambangun Indonesia dengan ideologi ciri khasnya. Pancasila harus bangkit kembali sebagai ideologi bangsa. Apabila Prancis memiliki ideologi “Liberte, Fraternite, dan Egalite”, Cina memiliki ideologi “San Min Chu I”, Indonesia memiliki ideologi “Pancasila”. Kejayaan Pancasila akan muncul kembali di depan mata kita.


[1] Sokowati, Gerilja dalam Pancasila. 1953. Hlm. 22

[2] Rahmat Subagya, Pantjasila Dasar Negara Indonesia. Jogjakarta: Penerbit BASIS. 1955. Hlm. 30

[3] Soesanto Darmosoegondo, Prinsip-Prinsip Pengalaman pancasila dalam Pembangunan Nasional. Bandung: Penerbit Alumni.1984. Hlm. 11

[4] Ibid.

[5] Ibid.

[6] Ibid, Hlm. 12

DAFTAR PUSTAKA

Buku
Darmosoegondo, Soesanto. 1984. Prinsip-Prinsip Pengalaman pancasila dalam Pembangunan Nasional. Bandung: Penerbit Alumni.
Sokowati, 1953. Gerilja dalam Pancasila. Hlm. 22
Subagya, Rahmat. 1955. Pantjasila Dasar Negara Indonesia. Jogjakarta: Penerbit Basis.
Wahjono, Padmo. 1993. Bahan-Bahan Pedoman Penghayatan dan Pengalaman Pancasila. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Artikel
Sigit, Sarjono. 2008. “Hilangnya Pendidikan Pancasila dari Struktur Kurikulum KBK dan KTSP”.
Herlanti, Y. (2008). “Kurikulum Pendidikan Indonesia dari Zaman ke Zaman”.

 
Leave a comment

Posted by on March 26, 2012 in Lain-Lain

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: